Pemandangan Mengharukan di Gunung Batur

“Pemandangan terbaik datang setelah trekking yang paling sulit.” Kami biasa mendengar kata-kata mutiara terkenal ini. Sulitnya mendaki gunung akan sesuai dengan pemandangan yang akan kita lihat. Teman-teman pasti sudah sering mendengarnya dan itulah yang Saya alami saat naik ke Gunung Batur beberapa waktu lalu.

Saya merasa layaknya seperti pasangan yang bahagia di puncak Gunung Batur, saya mengambil foto untuk mengabadikan matahari terbit yang indah seperti ini!

pemandangan gunung batur

Lelah melakukan mount batur sunrise trekking ini dari subuh hingga membuahkan hasil dengan pemandangan indah yang disajikan oleh Gunung Batur. Semua mata terlihat bahagia saat matahari pagi terbit dari ufuk timur. Aku juga merasa seprti ingin menangis karena sangat terharu. Rasa bahagia yang saya rasakan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Sebenarnya, rencana untuk mendaki Gunung Batur merupakan rencana dadakan yang baru direncanakan sehari sebelumnya. Salah seorang teman saya telah mendaki Gunung Batur beberapa tahun yang lalu, sementara teman saya yang lain sangat ingin berkeliling pulau Bali. Mumpung kami semua sedang di Bali dalam urusan bisnis. Jadi, setelah beristirahat dan menginap di hotel, pada sore hari kami berangkat ke Kintamani untuk melakukan mount batur sunrise trekking.

Untuk itu teman saya melakukan googling mencari penyedia paket mount batur sunrise trekking. Ada beberapa penyedia yang kami hubungi, namun pendaftaran mereka sudah tutup. Untungnya ada company Aswindra Jaya yang buka sampai jam 10 malam. Jadi kami mendaftar untuk mount batur sunrise trekking besok yang tinggal beberapa jam.

Pendakian di Gunung Batur

Pada tengah malam, tepatnya pada jam 12, kami berkendara menuju Kintamani dengan disupiri bli Putu. Ya, udara mulai dingin dan semakin dingin ketika kami memasuki daerah Tampak Siring. Hampir dua jam perjalanan kami tidak berhenti, kecuali ketika teman saya memutuskan untuk mengenakan jaket tambahan karena udara yang semakin dingin.

Pukul setengah empat pagi kami tiba di tempat parkir pos awal gunung Batur.  Sepertinya kami satu-satunya pendaki yang datang, mungkin pendaki lainnya masih dalam perjalanan. Kami beristirahat di sebuah toko yang masih terbuka di tempat parkir sementara kami menunggu pendaki lain. Rencananya kami akan mengikut di belakang mereka.

Sebenarnya, bagi pendaki profesional, jalur pendakian Gunung Batur tidak terlalu sulit. Meski begitu, bagi saya ini sangat sulit, terutama dengan gaya hidup saya yang kurang olah raga. Pura yang menandai awal pendakian ke puncak belum terlihat, namun saya sudah kelelahan, saya berhenti berulang kali untuk beristirahat dan mengatur nafas saya.

Ketika saya tiba di pura, kepala saya pusing, saya perlu beristirahat lebih lama sampai saya hampir menyerah. Saya mengatakan kepada teman-teman saya untuk meninggalkan saya: “Naiklah, aku menunggu di sini.” Saya menjadi gelisah setelah melihat kedua teman saya menghilang, dan akhirnya saya putuskan untuk menyusul mereka.

Pemandangan matahari terbit di Gunung Batur

Menjelang matahari terbit, kelompok pendaki semakin banyak berkumpul di pos ini. Beberapa orang duduk manis di tepi tebing untuk mengambil tempat sambil beristirahat.

Matahari yang ditunggu-tunggu akhirnya tampak terlihat perlahan dari balik gunung. Tak sedikit pendaki mengagumi keindahan matahari terbut saat itu. Sama denganku, saya mengambil beberapa foto dari berbagai sudut. Saya mengagumi keindahan matahari terbit dari Gunung Batur sampai saya merasa ingin menangis.

Saya tidak sabar untuk berbagi foto dengan dua teman saya di atas. Saya tidak sabar untuk melihat gambar pemandangan dari sana. Pemandangan dari atas sama indahnya.

Kami juga sempat menikmati pemandian air panas di kawasan Toya Bungkah. Ini adalah pemandian air panas dari danau kaldera gunung Batur. Pemandian air panas Toya Bungkah ini seharga Rp.100.000 untuk wisatawan domestik.

Menjelang sore hari, suasana pos di atas menjadi semakin sepi. Panas matahari sangat menyengat. Sama dengan pendakiannya, penurunannya juga bukanlah masalah yang mudah. Perlahan kami meninggalkan pos. Begitu melewati pura, jalan yang kami lewati adalah jalan beraspal yang lebih mudah. Sementara kami turun, kami masih bisa menikmati pemandangan seperti melihat aktivitas penduduk setempat yang sedang bertani.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *